Adjie Bandy

Semasa hidupnya, sosok Adjie Bandy lekat dengan nuansa maupun atmosfer musik yang idealis. Adjie Bandy yang dilahirkan di Blitar, 10 Januari 1947, menguasai dengan baik pelbagai instrumen musik mulai dari gitar, keyboard, hingga biola. Musik klasik adalah dasar musik yang dia geluti.

Bakat musiknya sudah terasah sejak kecil. Pada 1960, di saat Adjie baru menginjak usia 13 tahun, ia telah tampil memukau dengan gesekan biolanya di Yogyakarta. Di Kota Gudeg inilah Adjie menimba ilmu musik klasik di Akademi Musik Yogya yang diselesaikannya pada 1969.

Jengah
Bermodalkan wawasan musik klasik yang telah membuat benaknya disesaki dengan repertoar klasik seperti Johann Sebastian Bach, Ludwig von Beethoven, hingga Wolfgang Amadeus Mozart, ia bertolak ke Jakarta. Untuk meniti karier musik. Bergabunglah Adjie dengan Orkes Simphony Jakarta yang dipimpin Adidharma. Uniknya, hanya sekitar dua tahun Adjie Bandy yang eksploratif dalam bermusik ini sudah merasa jengah. Ia tidak betah pada suasana kerja di Orkes Simphony yang berbasis di RRI Jakarta itu.

Naluri kreativitasnya yang bergejolak membuat Adjie memilih bergabung dengan sebuah grup pop, C’Blues, yang antara lain didukung oleh Idang, Mamad, Yongli, Bams, dan Bambang. Grup ini sempat merilis dua album di perusahaan Remaco. Adjie sempat menulis beberapa lagu, di antaranya yang melejit sebagai hits adalah “Ikhlas” yang juga dinyanyikannya sendiri.

Dalam C’Blues, Adjie mulai menyusupkan permainan biolanya yang khas. Di sini Adjie mulai memperlihatkan teknik menggesek biola yang ekspresif. Bunyi biola seolah merupakan perpanjangan naluri musiknya.

Karena gagasan musiknya kurang tertampung di tubuh C’Blues, Adjie mundur dan menjejakkan kaki di grup Cockpit. Grup ini antara lain didukung Emmand Saleh, Najib Osman, Paultje Endoh, dan Eddy. Cockpit sempat dikontrak di sebuah klab di Singapura.

Periode 1973-1974, Adjie Bandy diajak bergabung dengan grup Gipsy yang bermarkas di Pegangsaan Barat, Menteng, Jakarta Pusat. Saat itu Gipsy yang didukung Keenan Nasution (drum), Gaury Nasution (gitar), Chrisye (bass), Rully Djohan (piano), dan Lulu Soemaryo (saksofon, flute), tengah bersiap-siap untuk bertolak ke New York, Amerika. Keberangkaran ke New York atas tawaran dari pejabat Pertamina, Ibnu Soetowo, untuk mengisi hiburan di Restoran Ramayana.

Pengaruh musik klasik
Pada 1976, Adjie Bandy mulai kasak-kusuk lagi untuk membentuk band baru. Dia lalu mengajak beberapa pemusik yang baru saja keluar dari grupnya masing-masing, seperti Tono Suparto (mantan pemain bass Big Man Robinson), Pungky Moektio (keyboard) dari Hookerman, Aris (gitar) dari The Steel, dan Jessy (drum). Selanjutnya, Contrapunk, grup barunya itu, yang bermakna saling mengisi dan melengkapi mulai menuju ke bilik rekaman. Pungky mundur dan posisinya digantikan oleh Yockie Soerjoprajogo dari God Bless sebagai pemain keyboard tamu.

Adjie Bandy nyaris menulis semua lagu untuk debut album Contrapunk, antara lain “Puteri Mohon Diri” dan “Irama Waktu” yang memiliki pengaruh kuat musik klasik. Bahkan dalam “Puteri Mohon Diri”, yang menjadi juara kedua dalam “Festival Lagu Pop Indonesia 1976”, menawarkan sesuatu yang unik: Menyusupkan atmosfer karawitan Sunda. Di album Contrapunk ini, Adjie pun mengajak dua penyanyi wanita dengan timbre vokal istimewa, yaitu Titiek Puspa dan Grace Simon.

Di album yang dirilis Pramaqua ini Adjie menampilkan warna musik yang eklektik, yaitu membaurkan berbagai warna musik. Saat itu Adjie Bandy bahkan menyebut gaya musik Contrapunk sebagai “Bach-rock”. Ini adalah gaya musik yang mencoba membaurkan anasir klasik dalam tatanan rock yang agresif. Tapi, Adjie toh masih arif dengan mengetengahkan juga lagu-lagu yang bersentuhan pop di album Contrapunk itu, seperti “Hampa”, “Kesepian”, “Perjumpaan Pertama Kali”, atau “Haru di Tahun Baru”.

Sayangnya, Contrapunk –dengan Adjie yang lebih banyak berkonestrasi sebagai pencipta lagu– hanya merilis satu album. Kemudian, pupus begitu saja.

Unjuk prestasi
Di tahun 1976, lagu ciptaannya, “Puteri Mohon Diri”, berhasil masuk final “Festival Lagu Pop Indonesia 1976”. Lagu ini kemudian meraih juara kedua, kalah dari lagu “Renjana” karya Guruh Sukarno Putra, yang meraih juara pertama. Lagu “Renjana”-lah yang berhak dikirim ke World Popular Song Festival 1976 di Budokan Hall, Tokyo, Jepang, mewakili Indonesia.

Setahun berselang Adjie kembali memasukkan karyanya pada Festival Lagu Pop Indonesia 1977. Ia mengirim lagu “Damai tapi Gersang”. Lagu ini pun meraih juara kedua, di bawah “Bila Cengkeh Berbunga” karya Minggus Tahitu yangmeraih juara pertama. Namun, Adjie beruntung, karena panitia penyelenggara World Popular Songs Festival di Tokyo memilih lagu “Damai tapi Gersang” sebagai wakil dari Indonesia, untuk berlaga di Nippon Budokan Hall, Tokyo, pada 11-13 November 1977.

Naluri juri internasional di Jepang memang berbuah bukti. Lagu yang bercerita mengenai makna kehidupan ini berhasil menyabet Outstanding Song Award. Sebuah penghargaan atas karya lagu.

Ini untuk pertama kalinya Indonesia berhasil meraih penghargaan di festival itu, sejak aktif mengirimkan duta musik pada 1971. Adjie Bandy yang berduet dengan Hetty Koes Endang memang berhasil memperlihatkan penampilan apik saat membawakan “Damai tapi Gersang” dengan pengiring musik Yamaha Pops Orchestra, Jepang. Adjie, pada bagian awal lagu, sempat pula memainkan grand piano.

“Kampus Biru”
Seusai meraih penghargaan untuk “Damai tapi Gersang”, Adjie Bandy mulai merintis karier solo. Ia merilis dua album solo, di antaranya berduet dengan sang istri, Yetty, pada perusahaan rekaman Irama Tara.

Pada album solo perdananya, Adjie Bandy kembali membawakan “Damai tapi Gersang” bersama Yetty serta dua karya Adjie lainnya yang pernah menjadi finalis Festival Lagu Pop Indonesia, yaitu “Kecewa” dan “Kehidupan”. Di album ini pun, Adjie menyanyikan kembali lagu “Kampus Biru”, yang dulu ia tulis untuk theme song film Cintaku di Kampus Biru (1976). Film ini dibintangi Roy Marten. Di album solonya yang kedua, Adjie kembali menyanyikan lagu “Puteri Mohon Diri”.

Memasuki dasawarsa 80-an, secara perlahan nama Adjie Bandy seolah kian menyurut. Hampir tak terdengar sama sekali. Memasuki era 90-an sosok Adjie Bandy tiba-tiba menggaung lagi, tapi dalam suasana yang sarat keprihatinan. Adjie yang telah bercerai dengan istrinya, terbaring lemah di sebuah rumah yang sangat sederhana. Pemandangan yang terlihat tak ubahnya seperti larik lagunya yang ia cipta di masa mudanya itu: Damai tapi gersang.

Pada 27 Januari 1992, pukul 07.00 WIB, saat mentari mulai membiaskan sinar, Adjie Bandy mengembuskan napasnya yang terakhir. Ia meninggal di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, dalam usia 46 tahun. Lagu “Damai tapi Gersang” pun seolah menjadi nukilan ramalan atas dirinya sendiri.

Tetapi kenyataan hidupmu pengorbanan Tinggal penghabisan lamunan, berlalu

Semua kehidupan dia berkhayal tinggal yang ada Rindu sayangi sesama, hidupmu sebentar saja

DISKOGRAFI

SOLO ALBUM
1. Damai Tapi Gersang – Adjie Bandi (PT Irama Tara 1978)
2. Pop Indonesia Vol. 2 – Adjie Bandi (PT Irama Tara 1979)
ALBUM FESTIVAL
1. Festival Lagu Populer Indonesia 1976 – (Pramaqua 1976)
2. Festival Lagu Popyler Indonesia 1977 – (Pramaqua 1977)
3. World Popular Song Festival In Tokyo 1977 (WPSF Japan 1977)
BERSAMA C’BLUES
1. C’Blues – C’Blues (Remaco RLL -106 – 1971)
2. C’Blues – C’Blues (Remaco RLL -139 – 1972)
BERSAMA GURUH GIPSY
1. Guruh Gipsy – Guruh Gipsy (Independen 1976)
BERSAMA CONTRAPUNK
1. Putri Mohon Diri – Contrapunk (Pramaqua)

Iklan

Chaseiro

Masa depan yang akan tiba
menuntut bukanya nuansa
yang s’lalu menabirimu pemuda

(“Pemuda” karya Candra N.Darusman)

Tak syak lagi, lirik yang terukir di atas merupakan lagu yang sering dibawakan oleh para siswa dan mahasiswa era akhir 70-an dan jelang 80-an, baik di pentas seni sekolah maupun kampus. Kerapkali, lagu bertajuk Pemuda yang ditulis Candra Nazarudin Darusman, ini, merupakan anthem pada saat opspek maupun inaugrasi mahasiswa baru di kampus-kampus.

Sesungguhnya lagu Pemuda ini ditulis Candra Darusman pada saat kampus di akhir era 70-an tengah bergejolak dengan mencuatnya Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang pada galibnya melarang para mahasiswa mengaitkan diri pada relung-relung kegiatan politik. Saat itu, dicanangkan bahwa tugas mahasiswa hanya menuntut ilmu.

Chaseiro sendiri memang terbentuk dari sederet mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tengah menuntut ilmu di kampus Salemba Jakarta. Dalam formasi, Chaseiro terdiri dari mahasiswa berbagai disiplin ilmu mulai dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial Politik, hingga Fakultas Kedokteran.

Nama Chaseiro sebetulnya merupakan akronim dari para pendukungnya, seperti Candra Nazarudin Darusman (piano,keyboards,vokal), Helmi Indra Kesuma (vokal utama), Aswin Sastro Wardojo (gitar,vokal), Edwin ‘Eddy’ Hudioro (flute), Irwan Indra Kesuma (vokal), Rizali Indra Kesuma (bass,vokal), dan Norman ‘Omen’ Sono Sontani (vokal).

Konsep Bermusik
Kegiatan bermusik Chaseiro bisa dianggap sebagai kegiatan ekstra kurikuler dalam kehidupan kampus. Walaupun sebatas hobi belaka, namun mereka tampaknya tak ingin terlihat setengah-setengah. Mulailah mereka mencetuskan konsep bermusik. Pilihan akhirnya jatuh pada musik pop dengan kecenderungan mengarah pada ranah jazz. Harmoni vokal dan kualitas bermusik menjadi pilihan jati diri musikal mereka.

Dalam sisi vokal, Chaseiro banyak mengambil referensi dari beberapa grup-grup jazz

Berimbangvokal, semisal The Manhattan Transfer, Rare Silk, Four Freshmen, dan banyak lagi, termasuk harmonisasi vokal ala Earth Wind & Fire, yang saat itu tengah digandrungi anak muda. Untuk musik, Chaseiro banyak mengadopsi referensi dari Sergio Mendes hingga Eumir Deodato. Tak heran, jika dalam beberapa penggarapan aransemen musik terendus nuansa musik tropikal Brazil.

Jazz Goes To Campus
Di tahun 1978, resmilah terbentuk Chaseiro berbarengan dengan tahun pertama penyelenggaraan even Jazz Goes To Campus yang berlangsung di kampus Salemba. Candra Darusman adalah salah satu penggagasnya. Saat itu, setelah menjuarai acara Festival Vokal Group yang diselenggarakan Radio Amigos Jakarta pada 6 Mei 1978, maka mulailah Chaseiro tampil di tempat-tempat bergengsi, seperti Taman Ismail Marzuki. Dedengkot jazz, Jack Lesmana, menaruh perhatian besar terhadap talenta grup yang berasal dari kampus ini. Chaseiro pun diajak tampil dalam acara bulanan jazz yang dikoordiasi oleh Jack Lesmana di TVRI bertajuk Nada dan Improvasi.

Tak lama berselang, Amin Widjaja dari Musica Studios tertarik untuk merekam karya-karya Chaseiro yang terwujud dengan dirilisnya album perdana bertajuk Pemuda di tahun 1979. Di album ini, Candra Darusman menulis hampir semua lagu antara lain Pemuda, Dara, Hanya Membekas Kini, Hari yang Indah, Sapa Prabencana, dan Mari Wong. Ada beberapa lagu di album ini kerap mereka bawakan di panggung pertunjukan sebelum masuk ke bilik rekaman, yaitu Pemuda, Mari Wong, Sapa Prabencana, dan Dara yang sempat masuk sebagai semifinalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1979.

Berimbang
Pada beberapa lagu, Candra meminta bantuan penulisan lirik dari Harry Sabar, Irvan N, dan Joeliardi Soenendar. Candra Darusman selain didaulat menjadi leader, juga bertugas sebagai penata arransemen musik dan Rizali Indra Kesuma bertugas sebagai penata vokal.

Di album ini, Chaseiro didukung oleh pemusik tamu, yaitu Benny Likumahuwa dan AS Mates, serta dua pemusik pendukung Uce Haryono (drum) dan Iwang Gumiwang (perkusi).

Di tahun 1980, Chaseiro merilis album kedua bertajuk Bila dengan sederet lagu seperti Ku Lama Menanti, Seandainya Sederhana, Pengungkapan, Sendiri, Tempat Berpijak, dan Kemanusiaan. Seperti album perdananya, di album kedua Chaseiro, penulisan lagu masih didominasi Candra Darusman.

Menariknya, pola penulisan lagu-lagu Chaseiro berimbang antara tema romansa dan kritik sosial. Jadi tak heran, saat itu fokus perhatian banyak terarah ke Chaseiro yang dihimpit merebaknya lagu-lagu pop dengan lirik mengumbar tema asmara dengan pilihan kalimat yang cenderung kurang cerdas.

Memasuki album ketiga bertajuk 3 (1981), ada sedikit pergeseran dari tata musik Chaseiro dengan imbuhan berupa anasir brass section dan strings section yang memberi atmosfer musik yang lebih lebar. Di album ini menyertakan lagu bergaya karnaval Brazil yang ditulis Guruh Soekarno Putera bertajuk Rio De Janeiro. Rasanya, album ini bisa dianggap album terbaik yang pernah digarap Chaseiro.

Goyah
Sayangnya, setelah merilis album keempat bertajuk Ceria (1983), keutuhan Chaseiro mulai goyah. Candra Darusman mulai bersolo karier. Aswin pun menjalani praktik sebagai dokter yang ditempatkan di daerah. Omen dan Rizali lebih banyak berkonsentrasi dengan Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks dan bermain film-film komedi.

Rizali sendiri bahkan melejit kariernya justeru sebagai diplomat yang kemudian di tempatkan sebagai atase kedutaan di Amerika Serikat. Edi Hudioro menjadi pengusaha yang sukses. Omen dan Helmi berwiraswasta. Sedangkan Irwan menjadi pengurus Yayasan Karya Cipta Indonesia. Candra selain berkiprah di YKCI juga membentuk grup jazz Karimata bersama Erwin Gutawa, Denny TR, Aminoto Kosin, dan Uce Haryono. Alhasil, Chaseiro hanya tinggal nama belaka.

Di tahun 1990, mereka pernah melakukan reuni dan merilis single Pemuda yang digarap dalam aransemen baru, tapi setelah itu Chaseiro kembali menghilang. Candra Darusman bahkan mendapat tugas di Swiss pada sebuah badan PBB yang memantau Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) bernama World Intelectual Property Organization

Hingga akhirnya pada tahun 2001 terjadi reuni sesaat ketika Candra dan Rizali mengambil cuti di Indonesia. Chaseiro melakukan reuni di kafe-kafe dan sempat merilis sebuah single baru bertajuk Bagaimanakah yang musiknya ditata oleh Andi Rianto dan dikemas dalam album kompilasi Persembahan yang merangkum sederet hit Chaseiro dari kurun waktu 1978-1983.


DISKOGRAFI
ALBUM

1.Pemuda (Musica Studios 1979)
2.Bila (Musica Studios 1980)
3.Tiga (Musica Studios 1981)
4.Ceria (Musica Studios 1983)
5.Persembahan (Musica Studios 2001)
SINGLE
1.Pemuda (Atlantic Record 1990)

Chaseiro 1979

Bubi Chen

Jazz adalah dunia Bubi Chen.rasanya Bubi terlahir untuk musik jazz.Dan mendekati 5 dasawarsa darah dan karsa Bubi tetap jazz.Sebuah kegigihan dan konsistensi yang mengagumkan. Dan tak bisa ditawar lagi, Bubi adalah jazz.Dimata saya Bubi Chen selaik  Midas, Raja Phrygia dalam mitologi Yunani yang sentuhan ujung jarinya mengubah segalanya jadi emas. Musik apapun yang disentuh Bubi berubah jadi jazz.Saat bersimbiose dengan pemusik tradisional Jawa Barat,Bubi opun mencitarasakan jazz.Bahkan ketika Doel Sumbang hingga band Padi menggamitnya berkolaborasi dalam rekaman,jari jemari Bubi yang menari di tuts piano tetap menebar rasa jazz. Tak banyak pemusik yang berani memastikan jazz sebagai pilihan hidup. Di negeri ini banyak kita jumpai pemusik jazz yang nyambi memainkan jenis musik lain untuk survive.

 Namun, Bubi Chen, yang belajar jazz secara autodidaktik, tidak pernah berhenti memainkan jazz. Jari-jemarinya tetap bergulir di atas tuts piano. Hanya jazz dan jazz. Simaklah bagaimana Bubi  Chen menafsirkan berbagai ragam anasir musik entah itu klasik, pop, maupun etnik ke dalam kamar jazz yang dibangunnya.

Ketika berusia 12 tahun ia sudah mengobrak-abrik repertoar klasik, dari Wolfgang Amadeus Mozart hingga Ludwig von Beethoven, menjadi jazz. Bebas lepas dari tradisi musik klasik yang taat pada pakem. Dalam 40 tahun lebih kariernya di dunia rekaman, Bubi mengaransemen begitu banyak lagu pop menjadi repertoar jazz yang improvisatif.

 

Mulai dari album Bila Ku Ingat Bubi Chen with Strings (produksi Irama, 1969), bersama Mus Mualim sebagai music director dan diiringi Orkes Simphoni Radio Jakarta, hingga sederet albumnya di akhir era 1990-an seperti Virtuoso (Legend Record,1995) atau What A Wonderful World (Sangaji Music, 1999) maupun album terakhirnya di tahun 2010 “The Many Colours Of Bubi Chen” yang menafsirkan pustaka musik rock dalam cermin jazz.

Lalu tengpkah  sampul belakang album Bila Ku Ingat, almarhum Mus Mualim menuliskan komentar tentang musikalitas Bubi Chen: ” Seorang pianis yang sempurna, baik dalam kecepatan dan keampuhan jari-jarinya maupun dalam susunan improvisasi yang progresif dan modern. Dia adalah seorang pemain piano yang rapi dan teliti.

 Tak heran apabila  di era 60-an banyak yang membanding-bandingkan permainan Bubi Chen dengan Art Tatum, pianis jazz Amerika yang memainkan Swing, Stride, dan Boogie Woogie dengan kompleksitas dan kecepatan jari-jemari yang luar biasa. Apa pun, yang jelas Bubi Chen lebih tepat disebut sebagai seorang penafsir jazz. Setiap lagu yang diinterpretasikannya senantiasa disusupi roh jazz yang berkesan baru dan fresh.

Setiap lagu yang diaransemennya ibarat seseorang yang mengenakan baju baru. Bubi pun piawai mengaduk-aduk sanubari mulai dari ambience beratmosfer lembut dan secara tiada terduga menyeberang ke perangai yang lebih agresif. Tak berlebihan jika menyebut permainan jazz Bubi adalah laksana miniatur yang meniru riak kehidupan manusia sehari-hari, mulai dari yang adem-ayem hingga yang penuh gelegak. kehidupan anak manusia.

 Untunglah Bubi memilih jazz. Sebab, dengan improvisasi, jazz bisa menerobos dan menyusup ke zona estetik musik lain. Yang pantas dicatat adalah ketika Tony Scott, peniup klarinet Amerika yang mengajak grup jazz Indonesian All Stars, yang terdiri atas Bubi Chen (piano, kecapi), Maryono (vokal, flute, saksofon tenor), Benny Mustafa (drum), Jopie Chen (bas), dan Jack Lesmana (gitar), merekam album Djanger Bali (produksi Saba/MPS,1967) di Jerman.

Meskipun membawakan beberapa repertoar negeri kita seperti Burung Kakatua, Djanger Bali, Ilir-ilir, maupun Gambang Suling-nya Ki Nartosabdo, album yang mendapat tanggapan baik dari dunia jazz internasional ini sama sekali tidak memasukkan instrumen gamelan. Padahal ambience Bali dan Jawa menyusup dalam permainan mereka. Jack Lesmana, misalnya, cukup memanipulasi karakter gamelan melalui sentuhan permainan gitarnya. Begitu juga Bubi, yang melakukan hal serupa pada permainan pianonya. Terkecuali lagu Gambang Suling, yang mengetengahkan permainan kecapi Bubi. Uniknya, lagu karya George Gershwin, Summertime, dimainkan dengan treatment karawitan Sunda.

Kolaborasi lain yang pernah dilakukan Bubi adalah merekam album Bubi di Amerika (Hidayat Audio, 1984) bersama Albert “Tootie” Heath, pemain drum jazz yang pernah mendukung Herbie Hancock, Dexter Gordon, dan Yusef Lateef, serta pemain bas John Heard yang pernah mendukung The Count Basie Orchestra, Louie Bellson dan Oscar Peterson. Rekaman yang berlangsung di Pasadena, California, ini memainkan genre Be Bop dan Hard Bop karya Miles Davis hingga Sonny Rollins.

Ini bukan hanya babak yang tak pernah terlupakan bagi perjalanan musikal Bubi Chen, tapi juga merupakan entry tersendiri dalam sejarah musik jazz di Indonesia. Kolaborasi lintas bangsa itu masih terus dilakukannya, misalnya ketika merilis album Virtuoso, yang didukung pemusik jazz dari Australia, Singapura, dan Filipina.

Dari catatan-catatan di atas, tersirat bahwa Bubi Chen adalah seorang pemusik yang gemar berdialog. Berdialog dengan pemusik jazz antarbangsa, berdialog dengan pemusik beda generasi, hingga berdialog dengan jenis musik lain di luar jazz.

Dan sang Midas pun kembali menjentikkan jari-jemarinya di bilah-bilah tuts piano. Jadilah jazz, jazz, dan jazz.

Perjalanan musik Bubi  Chen ini,untungnya,direkam dengan seksama dalam buku ini.Sebuah dokumentasi yang kelak akan diketahui pula oleh generasi setelahnya.Sejarah musik Indonesia pun mencatat bahwa Bubi adalah jazz itu sendiri.

 

Denny Sakrie,pengamat musik

Bubi Chen 1967

Erros Djarot

“Saya bukan penyanyi……” itu kalimat sakti Erros Djarot yang kerap keluar dari mulutnya,setidaknya  saat lelaki berkumis tebal  yang bernama asli Soegeng Djarot ini tampil di depan publik bersama Barong’s Band,band anak Indonesia yang terbentuk di Koeln Jerman Barat pada awal era 70-an..Tepatnya 35 tahun silam pada tanggal 14 dan 15 Mei 1976 di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta
Dan kalimat sakti itu justeru keluar lagi dari mulut Erros Djarot dihadapan banyak tamu yang menghadiri acara terbatas “35 Tahun Erros Djarot Berkarya” di Lunar Lounge Pondok Pinang Jakarta Selatan 23 Juli 2010.
Setidaknya lagi kalimat sakti itu bisa menjadi jembatan permakluman  apabila ternyata  Erros yang malam itu merayakan ulang tahunnya yang ke 60 bernyanyi tak merdu,tidak pitch dan lain sebagainya.
Dalam perhelatan yang banyak dihadiri kerabat Erros dari kalangan  pemusik,seniman,budayawan, politikus,wartawan dan entah apa lagi,itu pada umumnya penasaran ingin mendengar suara Erros Djarot sesungguhnya seperti apa .Karena saya yakin tak semua orang pernah menyimak album Barong’s Band yang menampilkan suara Erros Djarot.Barong’s Band sendiri tercatat hanya sekali tampil di TVRI yaitu pada tanggal 5 Mei 1976 dan hanya sempat sekali menggelar konser di TIM Jakarta pada pertengahan Mei 1976.
Selama ini kha layak hanya mengetahui bahwa Erros Djarot yang kini menambah satu huruf r pada nama depannya adalah kreator utama dari album soundtrack film “Badai Pasti Berlalu” (1977) yang melejitkan pula sosok Chrisye maupun Berlian Hutauruk hingga Yockie Suryopryago dan Fariz RM.
Walaupun sejak awal 70-an pernah ngeband dgn berbagai band mulai dari Chekink II,The GIBS  hingga berlanjut ke band yang terbentuk di Jerman seperti Kopjaeger dan Barong’s Band,Erros tetap merasa dirinya bukan pemusiki yang sesungguhnya.”Saya ini  seorang pemimpi ” itu kalimat yang kerap pula muncul dari mulutnya manakala ada yang menanyakan ikhawal musikalitas Erros Djarot.
Malam  itu Erros memang seperti ingin melakukan napak tilas terhadap karirnya di zona musik”Beberapa sahabat awalnya berniat merayakan hari ulang tahun saya pada  22 Juli 2010 .Ide yang kurang kreatif ini saya respon dengan penolakan. Ketika mereka menyodorkan alternative tema “35 Tahun  perjalanan Erros Djarot Berkarya” , usulan ini langsung saya setujui.Langsung pula saya kontak temen temen lama ,Debby Nasution,Yockie,Keenan Nasution untuk memberitahu adanya ide dadakan  ini. Akhirnya kita sepakat dan saling heran .seakan tak percaya….Waw ! Setelah puluhan tahun absen akhirnya kita bersama manggung lagi.Melepas kerinduan terhadap pencinta musik kami” ungkap Erros Djarot panjang lebar.

Meskipun  sempat diguyur hujan, tapi para tetamu malah tak beringsut sedikitpun  dari Lunar Lounge yang menggelar semacam garden party.Terlihat beberapa pemusik kerabat Erros di era 70-an seperti Keenan Nasution,Gauri Nasution,Oding Nasution,Debby Nasution ,Harry Sabar,Harry Minggoes,Doddy Soekasah termasuk  Titik Puspa,Setiawan Djody,Franki Raden hingga Iwan Fals.Wajah wajah dari ranah politik pun terlihat seperti Hayono Isman,Soetiyoso,Roy BB Janis,Zulkifly Hasan serta dari kalangan media  mulai dari Bambang Harymurti hingga Ishadi SK
Pada saat perjamuan makan malam di kotak speaker terdengar lagu protes Erros Djarot yang dirilis sesudah lengsernya Soeharto pada Mei 1998 silam,lagu itu bertajuk “Janganlah Menangis Indonesia”.Lagu itu dinyanyikan oleh wartawan Detik,tempat Erros memimpin sebuah media cetak.Tapi lagu itu memang banyak yang tak mengenal.Suasana kian riuh dengan aroma nostlagia sambil mencicipi makanan yang tersedia melimpah.
Lalu putera Erros Banyu Biru tampil ke panggung memperkenalkan sosok ayahnya yang malam itu genap berusia 60 tahun.Kakak kandung Erros,Slamet Rahardjo pun naik ke pentas bertutur tentang adiknya itu.
Berlanjut dengan sajian musik dari para penyanyi masa kini seperti Farman,Anissa dan Lea Simanjuntak yang membawakan lagu lagu karya Erros dari album “Tribute to Erros Djarot” (2009). Slamet Rahardjo kemudian tampil membawkan lagu dengan nuansa laid-back jazz “Sendiri Menembus Malam”.Konon lagu ini khusus ditulis Erros untuk dinyanyikan abang kandungnya itu.
Erros  Djarot lalu mengambil alih posisi sebagai penyanyi.Dengan sumringah Erros membawakan  sekitar 6 lagu  dengan dukungan Gauri Nasution (gitar|),Debby Nasution (keyboard) dan Harry Minggoes (bass).Sepintas formasi ini mengingatkn kita pada formasi Barong’s Band yang tampil di TIM pada tanggal 14 Mei 1976 silam.
Dibuka dengan lagu “Pelangi” dari album Badai.Debby memetik gitar akustik.Erros pun menyanyi.Beberapa penonton malah ikut bernyanyi .Disela-sela penampilannya Erros bertutur tentang lagu-lagu yang dinyanyikannya seperti “Angin Malam”,”Khayalku”,”Semusim”.Lalu berlanjut ke lagu yang bernuansa geram “Negeriku Cintaku”.Lagu yang dipopulerkan Keenan Nasution ini ditulis oleh Debby Nasution dan Erros Djarot pada tahun 1976.Liriknya pun provoke :

Hei kaum muda masa kini
Kita berantaslah korupsi
Jangan kau biarkan mereka
Menganiayai hati kita

Keenan Nasution hanya tersenyum melihat Erros menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat di panggung.Aroma prog-rock menyeruak dari permainan keyboard Debby Nasution yang banyak terpengaruh gaya Rick Van Der Linen,pemain keyboards grup prog-rock Belanda Ekseption.
Erros masih melanjutkan lagi penampilannya dengan lagu “Tuhan” yang diambil dari album Barong’s Band di tahun 1976.
Acara yang berlangsung meriah itu berakhir dipertengahan malam.Iwan Fals didaulat untuk tampil .Lagu bermuatan gugat tentang republik ini berkumandang dari tenggorokan Iwan Fals.

Dalam perayaan “35 Tahun Erros Djarot Berkarya” mengemuka kredo bermusik Erros yang tampak nyata selama ini yaitu berada dalam kitaran karya romansa dan kritik sosial.Tampaknya Erros memang berada di dua kutub yang saling berbeda perangai itu.Disatu sisi Erros mengemuka dengan romantisme yang meluap dan kepayang, tapi disi lain Erros pun mengerang dengan pelbagai kritik yang tajam.

Di paruh era 60-an,Erros mulai kesengsem dengan musik.Berbekal kemampuan memetik gitar ala kadarnya Erros memang seperti mendambakan sesuatu yang hakiki dalam dunia musik.Saat itu The Beatles tengah melanda dunia.Erros pun menggemari The Beatles.John Lennon yang kuat dalam pengejawantahan visi adalah tokoh yang dikagumi Erros Djarot.Semasa duduk dibangku SMA 1 Budi Utomo Jakarta pada tahun 1967-1968 ,Erros mulai terlibat kegiatan ngeband,diantaranya menjadi gitaris Budut Band dan Chekink II. Erros yang ekstrovert memang memiliki pergaulan yang luas.Temannya ada dimana-mana.Termasuk  diantaranya Bambang Trihatmojo putera presiden Soeharto yang menyediakan salah satu bagian dari kediamannya di Jalan Cendana untuk latihan band.Saat itu,tahun  1970,Erros bersama Indra dan Tri Anggono Sudewo tergabung dalam band The GIBS.Bambang Tri sendiri membentuk band The Crabs. “Seingat saya The GIBS pernah tampil di TVRI mengiringi penyanyi Henny Poerwonegoro.Saya bermain gitar he he “ ujar Erros mengenang.

Tak lama kemudian Erros memutuskan melanjutkan pendidikan ke Jerman Barat.”Erros itu cerdas.dari kecil dia telah memperlihatkan intelegensia yang tinggi.Angka yang diperolehnya dalam pelajaran di sekolah itu selalu berkisar pada nilai 9.Ayah saya memang menaruh harapan tinggi pada Erros.Apalagi saat itu saya yang tertua malah lebih memilih dunia teater.Jadi tak heran jika Erros menjadi harapan ayah” ujar Slamet Rahardjo di Sanggar Teater Populer Jalan Kebon Pala Jakarta.

Di Jerman Erros bermukim di Koeln dengan mengambil pilihan Teknik Kimia.Kegandrungannya dalam bermusik mulai mencuat lagi di Jerman,apalagi sahabat ngebandnya dulu di Jakarta  seperti Tri,Darmadi dan Epot juga menetap di Jerman.Akhirnya Erros pun tergabung dalam band bernama Kopjjaeger yang dalam bahasa Jerman artinya pemburu kepala.Band ini dibentuk pada Maret 1968 oleh Utomo Umarjadi (bass) dan Harry Suharjanto (keyboards).Saat Erros bergabung,formasi Kopfjaeger terdiri atas Tri Anggono Sudewo (drums),Harry Suharjanto (keyboards),Utomo Umarjadi (bass),Darmadi (gitar) dan Erros Djarot (gitar).Kopfjaeger bermain rutin dua kali seminggu di Tannenhof Restaurant di sebuah kota kecil bernama Bad Muenstereifel, sekitar 30 km dari kota Bonn.Uniknya saat Kopfjaeger diminta bermain untuk acara di Kedutaan RI,mereka lalu mengganti namanya menjadi Indonesische Band.”Kami membawakan lagu lagu top 40” jelas Erros Djarot.

Namun Erros justeru merasa kian gelisah saat bergabung dengan Kopfjaeger yang kerap hanya tampil sebagai band pembawa lagu-lagu orang saja.Diam diam Erros menyimpan obsesi besar yaitu membuat band yang bernuansa Indonesia.

.”Ketika bermukim di Jerman saya gelisah.Nasionalisme saya seolah tertantang untuk diwujudkan.Perasaan cinta bangsa rasanya memang baru terasa berkobar-kobar jika kita tengah merantau di negeri orang.Saat di Jerman saya selalu merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua.Sehebat apa pun anda,secerdas apa pun atau sejenius apapun.Anda tetap dianggap sebagai warga kelas dua.Ini tentu menyakitkan.Saat itu nurani saya berontak.Saya bersama anak-anak Indonesia yang kebetulan sedang bersekolah di Jerman berinisiatif membentuk band yang namakan Barong’s Band” demikian cerita Eros Djarot panjang lebar .

Dari sinilah kemudian muncul gagasan membentuk Barong’s Band di tahun 1974.Akhirnya terbentuklah Barong’s Band dengan formasi Erros Djarot (gitar),Tri Anggono Sudewo (drums),Choqy Hutagalung (keyboards),Epot (bass) dan Darmadi (gitar).Mereka pun mulai giat membuat lagu-lagu karya sendiri dalam bahasa Indonesia.Sesuatu yang teramat musykil mengingat mereka justeru bermukim di negeri orang.”Tapi kami tetap bertekad ingin ngeband dengan semangat Indonesia.Kita kan orang Indonesia” ucap Erros Djarot tersenyum.

 

Singkat cerita,Erros Djarot yang telah memendam segunung gagasan saat berkelana di Jerman berkeinginan untuk menumpahkannya di Tanah Air.Saat itu gagasan yang telah lama terbersit dalam pikirannya adalah ingin mewujudkan penulisan lagu dalam bahasa Indonesia.

Erros Djarot dan Barong’s Band pada tahun 1975 menjejakkan kaki kembali ke Tanah Air tercinta.Erros lalu mampir ke rumah Keenan Nasution di Jalan Pegangsaan Barat 12 Menteng Jakarta Pusat yang juga menjadi markas band Gipsy dan Young Gipsy.Di rumah milik bapak Saidi Hasjim Nasution itu memang seolah menjadi rumah singgah anak band Jakarta.Kelima putera pak Nasution  seperti Zulham Nasution,Gauri Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution  dan Debby Nasution masing masing memiliki band sendiri seperti Gipsy,Young Gipsy,Clique Fantastique hingga God Bless.

Kunjungan Eros Djarot ke Jalan Pegangsaan Barat  12  rasanya merupakan sasaran yang tepat.Karena disinilah sebetulnya Eros Djarot bisa menyatukan gagasan dan mensenyawakan elemen musik yang dimilikinya,bertaut dengan gagasan gagasan cemerlang  yang sekian lama juga mengendap di Jalan  Pegangsaan.

Eros Djarot bersama sahabat-sahabat bermusiknya di Jerman seperti almarhum Epot (bas),Tri (drum) dan Ady (gitar) lalu bertandang ke Pegangsaan,Diskusi musik pun tak terhindarkan lagi.Gagasan bermusik berkonsep Indonesiana pun termuntahkan.Eros saat itu berdecak kagum menyaksikan musikalitas Debbie Nasution,putera bungsu Saidi Hasjim.

”Debbie itu jenius.Dia bisa memainkan musik klasik padahal dia hanya belajar secara otodidak.Debbie hanya memanfaatkan kupingnya dengan menyimak karya karya klasik melalui piringan hitam ayahnya.Ini luar biasa” puji Eros Djarot.

Di Pegangsaan,Eros pun kerap berbincang-bincang dengan pak Saidi Hasjim.”Kami banyak berbincang soal musik opera kegemaran Oom Saidi.Selain musik klasik oom Saidi juga menggemari karya lukisan” tukas Eros Djarot.Dalam diskusi seni antara Eros dengan Saidi Hasjim dan juga Debbie,mereka sering membahas karya karya lukisan bernilai seni yang tinggi seperti lukisan karya van Gogh,Rembrandt hingga Picasso.

“Momen ini tak pernah hilang dalam ingatan saya” imbuh Eros Djarot lagi.

Di lain hari,Eros dan Debbie mulai terlihat berjam jam di sekitar piano.Eros bersenandung,Debbie mereka reka akord.Terkadang Debbie pun mengimbuh beberapa senandung melodi.Keduanya hanyut dalam proses penciptaan lagu.

Di depan piano yang berada di kamar Debbie itulah cikal bakal lahirnya lagu “Angin Malam”,”Khayalku” dan “Cintaku” yang kelak menjadi bagian dari album fenomenal sepanjang masa “Badai Pasti Berlalu”.Bahkan dari kolaborasi antara Debbie Nasution dan Eros Djarot itu pun menghasilkan sebuah lagu bertajuk “Negeriku Cintaku” yang direncanakan akan menjadi bagian dari album perdana Barong’s Band.

Namun akhirnya lagu ini ternyata menarik perhatian Keenan Nasution yang tengah mengumpulkan materi lagu untuk album perdananya “Di Batas Angan Angan” yang dirilis pada tahun 1978.

Lirik lagu “Negeriku Cintaku” memang terasa tajam dan pedas.Mungkin ini yang disebut sebagai protest song  atau oleh wartawan musik acapkali dikategorikan sebagai lagu kritik sosial.

Eros Djarot memang selalu meletup-letup disatu sisi,akan tetapi di sisi lain Eros bisa terkesan luar biasa romantis.Eros memang mengakui hal itu.”Jika saya tergerak secara intelektual maka akan berhamburan lah lirik bertema kritik sosial.Tapi jika impuls emosional saya bekerja maka tertuanglah lagu-lagu yang romantik seperti isi sebagian besar album Badai Pasti Berlalu” jelas Eros Djarot.

Akhirnya Gauri Nasution dan Debby Nasution pun ikut bergabung dalam formasi Barong’s Band.”Saya mengagumi bakat Gauri memetik gitar atau Debby yang perfek bermain piano” puji Erros Djarot.

Bersamaan dengan bergabungnya Gauri Nasution dan Debbie Nasution dalam formasi Barong’s Band,Eros Djarot pun mulai disibukkan sebagai peñata musik beberapa film garapan sutradara almarhum Teguh Karya seperti “Perkawinan Dalam Semusim” dan “Kawin Lari”.

Keterlibatan Erros dalam illustrasi musik film justeru berawal dari kemarahan sutradara Teguh Karya.Erros yang dijuluki big mouth oleh sohib terdekatnya memang selalu melontarkan kritik yang tajam dan pedas.Entah untuk musik hingga film.Suatu hari Teguh Karya yang selalu menjadi sasaran kritik Erros malah menyergah Erros :”Kalau lu ngerti,coba deh lu aja yang bikin illustrasi musik film gua nanti.Gua pengen tau tuh hasilnya kayak apa”.

Erros yang merasa tertantang,langsung menerima tawaran penggarapan illustrasi musik film “Kawin Lari” (1975) yang dibesut Teguh Karya.Diluar dugaan garapan music Erros malah berbuah prestasi.Dalam Festival Film Indonesia 1976 Erros Djarot meraih Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik.

“Erros memang big mouth.Mirip petinju Muhammad Ali yang kerap berkoar koar.Tapi ternyata apa yang diucapkannya bisa terbukti” ujar Slamet Rahardjo.

Ketika menggarap musik untuk film “Kawin Lari” yang dibintangi Slamet Rahardjo dan Christine Hakim,Eros Djarot pun melibatkan Barong’s Band.”Obsesi saya untuk membuat album dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia terwujud di album Kawin Lari” ujar Eros Djarot.

Sebelum proses penggarapan album Kawin Lari,Eros sengaja memborong sejumlah kaset-kaset pop Indonesia yang tengah ngetop saat itu,mulai dari Koes Plus,D’Lloyd,Panbers,Arie Koesmiran,Ade Manuhutu dan banyak lagi.”Kaset-kaset itu kami dengarkan dan pelajari.Kami telaah melodinya dan menyimak tema tema syairnya.Ini merupakan referensi sebelum kami melangkah lebih jauh lagi bersama Barong’s band” cerita Eros Djarot.

Sampai akhirnya,Eros Djarot dan kawan kawan berkesimpulan bahwa pemusik pemusik Indonesia banyak yang terjebak dalam komersialisasi belaka.Kreativitas bermusik terkuras dengan begitu banyaknya karya-karya pesanan yang seringkali mengatasnamakan selera pasar atau selera masyarakat.”Ini menyedihkan,karena pada akhirnya terjadilah yang namanya pendangkalan.Dan ini pun mulai terlihat lagi di zaman sekarang ini” ucap Eros Djarot.

Di saat proses penggarapan album Barong’s Band,Eros bahkan berbuat sesuatu yang agak ekstrem.”Setiap anggota Barong’s tidak boleh mendengarkan rekaman pemusik Barat.Agar musikalitas mereka tak terganggu.Jadi saya memang menginginkan karya-karya kami lebih orisinal” cerita Eros Djarot.

Pada tahun 1976 beredarlah album Barong’s Band bertajuk “Kawin Lari” menampilkan sebagian besar karya Eros Djarot seperti “PelukMu”,”Oh Wanita” ,”Bisikku”hingga “Jakarta”.Menariknya,di album ini Eros pun menampilkan dua buah lagu bergaya keroncong yang dinyanyikan secara duet  oleh Titi Qadarsih dan Slamet Rahardjo,kakak Eros.Lirik lagu keroncong  bertajuk “Stambul Jakarta” ditulis oleh Teguh Karya.”Saya memang mencoba mengangkat nuansa Indonesia di album ini” jelas Eros.

Hampir bersamaan dengan album “Kawin Lari”,Barong’s Band juga merilis album “Barong’s Band” dengan atmosfer rock progressive yang kuat mencengkeram.Debbie sendiri banyak mengadopsi karya klasik Johann Sebastian Bach.Seluruh lagu ditulis oleh Eros Djarot,terkecuali”Negara Kita” yang ditulis oleh Debbie Nasution.Lagu lagu yang dikemas di album ini cenderung bernuansa kontemplatif,permenungan hingga kritik sosial.Lihatlah sampul albumnya yang bertuliskan kalimat : “Beri kami sinarMu dikegelapan agar mereka yang buta menjadi terang”.

 

Barong’s Band memang mendapat perhatian tersendiri dalam gugus musik Indonesia.Permainan gitar Gauri Nasution dan keyboard Debbie Nasution menuai pujian dari para pengamat musik.

Sayangnya Barong’s Band hanya sempat merilis 2 album saja.Selanjutnya Eros disibukkan dengan berbagai kegiatan penggarapan musik film terutama film-film yang dibesut Teguh Karya.

Walaupun disibukkan menggarap music score untuk film layer lebar,     sebetulnya Eros Djarot tetap melakukan kolaborasi dengan komunitas musik Pegangsaan.

Saat itu Erros pun sering bertandang ke kediaman Guruh Soekarno Putera di Jalan Sriwijaya 26 Jakarta.Energi kreativitas Erros dalam dunia musik pun kian menggelegak.Apalagi Guruh akan melakukan kolaborasi musik eksperimen bertajuk Guruh Gipsy  .”Saya banyak mengajukan sumbangan ke gagasan baik ke Guruh maupun Keenan” ungkap Erros Djarot.

Menurut Erros beberapa lagu-lagu karyanya banyak yang tercipta saat berada di Jalan Pegangsaan Barat 12 maupun di Jalan Sriwijaya 26. Lagu-lagu itu kemudian men jadi bagian dari album Barong’s Band serta album soundtrack “Badai Pasti Berlalu” .

Beberapa lagu dengan tema romansa pun tercipta yaitu “Angin Malam”,”Khayalku”dan “Cintaku”.”Ketiga lagu ini memang tercipta saat saya intens bermain di Pegangsaan.sedangkan lagu “Pelangi” dan “Semusim” justeru tercipta ketika saya main di rumah Guruh di Jalan Sriwijaya” ungkap Eros Djarot perihal gagasan awal munculnya album Badai Pasti Berlalu yang menjadi soundtrack film”Badai Pasti Berlalu” besutan Teguh Karya.

Erros bahkan menampilkan torehan lirik lagu yang romantis tanpa terjebak dengan pola-pola yang standar: patah hati berkepanjangan, meratap-ratap, dan cengeng.Pada akhirnya Badai Pasti Berlalu menjadi fenomenal.Menjadi album tonggak dalam sejarah musik pop Indonesia.”Saya bahkan tak menyangka Badai Pasti Berlalu bisa  menjadi album yang terus diperbincangkan orang” tukas Erros .

Musik dan Film pada akhirnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam raga Erros Djarot.Selain meraih Piala Citra dalam FFI 1976 untuk peiñata musik terbaik,di tahun 1978 pada FFI 1978 Erros Djarot kembali meraih Piala Citra.Walupun demikian Erros tetap menolak disebut sebagai pemusik.”Bagi saya Idris Sardi tetap meruapakan pemusik yang berkompeten.Kalo saya hanya seorang penggagas yang didukung oleh orang orang yang tepat pada bidangnya” jawab Erros.

Dalam wawancara dengan majalah Aktuil no.233 edisi 13 Juni 1977 Erros Djarot berkomentar seperti ini “Kalaulah jadi sutradara saya nggak mau sebesar Teguh Karya,nggak mau sebesar Wim Umboh atau Sjumandjaja.Saya pengen sebesar Akira Kurosowa atau Roman Polanski.Buat apa segitu aja.Ini kan cita cita ? .

Tekadnya untuk menyusup ke dunia film terlihat ketika Erros berhasil memperoleh beasiswa sinematografi di London dari British Council.Erros tampaknya serius menekuni dunia perfilman ,tanpa harus mengenyampingkan kiprahnya di dunia musik

Obsesinya menggarap film pada akhirnya berbuah bukti ketika film “Tjoet Nja’ Dhien” yang dibesutnya pada tahun yang didukung Christine Hakim dan Slamet Rahardjo berhasil meraih Citra sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia 1988.

Dan Erros Djarot adalah sosok seniman yang senantiasa membalur karya-karyanya dengan nasionalisme, entah itu music maupun film.

 

Erros Djarot (foto Tempo)

Dian Pramana Poetra

Jika ingin memetakan perjalanan musik Dian Pramana Poetra, maka kita seolah memandang sebuah kuala yang sarat dengan karya karya musiknya. Tak pelak lagi, dia adalah seorang kreator yang produktif dalam ranah musik pop. Dian telah menghasilkan sederet hits yang dinyanyikan penyanyi papan atas mulai dari Chrisye, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Sheila Madjid, Harvey Malaihollo, Fariz RM, Broery Pesolima, Ruth Sahanaya, Trie Utami, January Christy, Syaharani, Glenn Fredly dan masih berderet panjang lagi.

 

Usia Dian Pramana Poetra, penyanyi, komposer dan pemusik yang sohor di dasawarsa 80-an genap 47 tahun pada tanggal 2 April 2008 ini. Lelaki kelahiran Medan, Sumatera Utara ini kembali merilis album baru bertajuk “Nada dan Cinta” yang dirilis Java Jazz. ”Seluruh lagu di album ini merupakan lagu lagu terbaru saya.” ungkap Dian yang nama lengkapnya adalah Dhian Permana Poetra. Beberapa lagu lagu yang dikemas dalam album baru tersebut sebahagian telah dinyanyikan Dian Pramana Poetra dalam konser di Java Jazz Festival 2008 di Assembly Hall 3 pada Sabtu 8 Maret 2008 seperti “Aku Jatuh Hati”,”Cepat Kau Datang” maupun “Aku Bukan Milikmu”. Tema yang ditorehnya memang masih bernuansa romansa. Aransemennya pun memang cenderung romantik, apalagi pada beberapa lagu tersirat aura musik Bossanova yang ritmis dan romantis. Album terbaru Dian Pramana Poetra ini boleh jadi merupakan pengobat rindu bagi penggemar karya-karyanya. Walaupun sebetulnya,sejak tahun 1999 Dian Pramana Poetra yang nyaris vakuum sejak dasawarsa 90-an itu, telah mulai berkarya lagi. Di tahun 1999 Dian menulis dan menyanyikan lagu baru bertajuk “Demi Cintaku” di album “Terbaik” (Target Pop & Aquarius). Di tahun 2000 Dian bersama kakaknya Henry Restoe Poetra dan adiknya Ika Ratih Poespa sempat melahirkan hits bertajuk “Wanita” yang diambil dari album “Dian Pramana Poetra & Friends” (Target Pop & Prosound 2000). Kemudian di tahun 2004 Dian kembali menulis lagu baru dalam album “Terbaik Terbaik” seperti Ungkapan Surgawi”, ”Tak Kuasa” dan “Rindu Buah Hatiku” dan juga melahirkan album religius bertajuk “Azza Wa Jalla” (RPM Record) pada tahun 2006 silam.

Sambutan yang meriah dari penonton yang memadati Assembly Hall 3 Java Jazz Festival 2008 membuktikan bahwa penyanyi yang mengaku terpengaruh Gino Vannelli dan Kenny Loggins ini masih memiliki massa yang fanatik.

VOCAL GROUP

Lingkungan keluarga yang musikal mungkin merupakan pemicu dari keterlibatan Dian pada industri musik negeri ini. Ayahnya,konon mahir bermain jazz dan sang ibu adalah seorang penyanyi keroncong. Dian lalu ikut bergabung dalam sebuah vokal grup bernama Bourest, yang dibentuk Yoppie Doank pada tahun 1977. Di vokal grup ini juga tergabung pemusik yang baru saja pulang dari Jerman Bagoes A. Ariyanto yang kelak menjadi mitra bermusik Dian Pramana Poetra pada solo album dan Kelompok 3 Suara.

Di tahun 1980, lagu karya Dian bertajuk “Pengabdian” berhasil menempati juara 3 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia, sedangkan Bagoes A.Ariyanto menempati juara 1 lewat lagu “Maheswara”. Dian pun menyanyikan lagu “Pengabdian” bersama Bourest Vokal Grup. Ini merupakan kali pertama suara Dian direkam dalam sebuah album.

Di tahun 1982, Dian diajak oleh Erwin Gutawa bergabung dalam kelompok Transs sebagai vokalis menggantikan Fariz RM yang mengundurkan diri dan membentuk Symphony. Sayangnya dalam New Transs, Dian tak sempat masuk ke bilik rekaman. Namun, karakter vokalnya yang jazzy meluluhkan almarhum Jackson Arief pemilik Jackson Records & Tape. Bersama dukungan Billy J Budiardjo dan Erwin Gutawa, Dian Pramana Poetra lalu melepas album perdananya di tahun 1983 bertajuk “Indonesian Jazz Vocal” yang melahirkan hits seperti “Melati Di Atas Bukit”, ”Semurni Kasih” dan “Kusabar Menanti”.

Kehadiran Dian Pramana Poetra memang menambah deretan pemusik serba bisa yang juga memiliki talenta kuat dalam menetaskan karya karya berkualitas. Ini jelas terlihat ketika Dian merilis album solo keduanya bertajuk “Intermezzo” yang didukung sederet pemusik mumpuni seperti Billy J Budiardjo, Erwin Gutawa, Bagoes A.Ariyanto, Uce Haryono hingga Raidy Noor.

Memasuki paruh dasawarsa 80-an, kegiatan musik Dian Pramana Poetra semakin bercabang. Antara lain bersekutu dengan Deddy Dhukun dalam membuat lagu. ”Biasanya saya menemukan melody, dan Deddy mulai menuliskan lirik lirik yang catchy.” jelas Dian Pramana Poetra. Pasangan ini pun lalu kebanjiran pesanan membuat lagu dari sederet artis-artis rekaman.

Dian bersama Deddy Dhukun lalu membentuk kelompok 2D dan juga K3S (Kelompok Tiga Suara) bersama Bagoes A.Ariyanto. Namun, keperkasaan Dian Pramana mulai meredup ketika memasuki dasawarsa 90-an. Nyaris satu dasawarsa sosoknya seolah hilang ditelan bumi. Banyak yang mengira Dian Pramana Poetra benar benar mengundurkan diri dari hiruk pikuk industri rekaman.

Dian Pramana Poetra

Kesunyisenyapan Dian Pramana Poetra akhirnya mulai sirna, ketika di tahun 1999 dia mencoba untuk tampil kembali dengan merilis album kompilasi bertajuk “Terbaik” yang diselusupi sebuah lagu baru bertajuk “Demi Cintaku”.

 Sejak saat itulah Dian kembali berkiprah dan menancapkan kukunya di pelataran musik Indonesia. ”Tapi saya memang harus meredam keinginan untuk menampilkan lagu-lagu baru. Ini karena cukup lama saya menghilang.” ungkapnya. Tak heran jika Dian Pramana Poetra lebih banyak merilis album album kompilasi yang diimbuh satu dua lagu baru. Strategi ini ternyata memang mempan. Sosialisasi semacam ini secara perlahan menumbuhkan bingkai baru dalam kreativitas Dian yang lalu mulai memberanikan diri merilis album baru dengan sejumlah lagu-lagu baru.

Beruntung, kiprah musik Dian mendapat sokongan penuh dari Peter F Gontha, sosok dibalik sukses perhelatan musik jazz terbesar Java Jazz. Dan kuala musik Dian Pramana Poetra mulai bergelegak kembali.

Chrisye

Mungkin bisa dihitung jari sebelah tangan, penyanyi yang memiliki karakter kuat dan juga memiliki karier musik panjang serta nyaris tak pernah stagnan. Di antara para penyanyi itu adalah Broery Marantika, Benya-min S., Farid Hardja, dan yang baru saja meninggalkan kita semua, Jumat 30 Maret silam, adalah Chrisye.

Suara Chrisye berkarakter kuat karena hampir tak ada yang bisa meniru atau menyamainya. Begitu mendengar senandungnya, kita pun bisa menebak siapa siempunya suara tersebut. Kesamaan lainnya, baik Broery, Benyamin, Farid maupun Chrisye mampu menyiasati pergeseran tren yang sering bergonta-ganti dalam konstelasi musik pop. Mereka luwes berlenggang pada era-era yang berbeda. Jika banyak pemusik atau penyanyi lain yang tersungkur karena hantaman tren yang menggelegak, maka Broery, Benyamin , Farid, dan Chrisye justru menjumput penggalan elemen musik yang tengah mewabah lalu dibaurkan dengan identitas musik mereka sendiri. Tanpa sedikit pun ada kesan pemaksaan sama sekali.

Lihatlah Benyamin S. yang mampu merengkuh berbagai idiom musik yang populer pada zamannya mulai dari blues, soul, funk, rock. hingga dangdut sekalipun tanpa harus memasung identitas musikalnya yang berlatar budaya Betawi. Itu pula yang terjadi pada Broery, Farid, hingga Chrisye.

Chrisye yang mengawali karier rekaman musik pada eksperimen musik Bali Rock bertajuk Guruh Gipsy (1976) justru bermain di wilayah rock progresif yang bersanding dengan pakem musik etnik Bali. Lalu mulai meluncurkan gaya musik pop yang mungkin bisa disebut pseudo-classical pada era Badai Pasti Berlalu (1977) karena tatanan musiknya berlatar simfonik dengan dominasi unsur keyboard yang seolah menjadi imitasi keanggunan sebuah orkestra.

Ketika era 1980-an riuh dengan gerakan New Wave melalui grup-grup yang bermuasal dari Eropa seperti The Police, Madness, The Specials, Chrisye bersama kolaboratornya, Yockie Soerjoprajogo, menyerapnya dalam album Resesi (1983) dan Metropolitan (1984).

Lirik lagunya yang, antara lain, ditulis Eros Djarot tak lagi bermetafora menakwilkan atmosfer asmara seperti dalam album Badai Pasti Berlalu: “bagaikan langit berpelangi/terlukis wajah dalam mimpi,” tapi mulai menyusupkan semangat gugat: “resesi ekonomi dunia gelisah semakin nyata/tuntutan hidup serba harmonis/ hanya mimpi belaka”.

Bahkan lirik-lirik lagu yang dinyanyikan Chrisye seolah merupakan refleksi peristiwa yang tengah terjadi di era tertentu. Ketika di era 2000-an tengah menjejalkan kisah-kisah perselingkuhan, Chrisye pun melantunkan lirik yang ditulis Ahmad Dhani: “Dan aku tak punya hati’ tuk mencintai dirimu yang selalu mencintai diriku, walau kau tahu diriku masih bersamanya”.

Mungkin hanya Chrisye yang bisa menyanyikan “engkau masih anak sekolah satu SMA/belum tepat waktu begini-begitu” lengkap dengan koreografi tari yang genit. Walaupun terkadang kita merasa geli melihat gerakan Chrisye yang kaku di antara para penari Swara Maharddhika. Tapi justru di situlah letak keunggulan Chrisye. Dengan kebiasaan cuplik sana cuplik sini itulah, Chrisye akhirnya mampu menembus pelbagai strata sosial yang ada di masyarakat. Dia bisa main di atas, bisa pula bermain di bawah.

Pola semacam ini juga kita temukan dalam gaya bermusik Broery Marantika, Benyamin S., dan Farid Hardja. Karya-karya mereka menjadi immortal dari generasi ke generasi. Mari kita lihat betapa memasyarakatnya idiom “buah semangka berdaun sirih” dari lagu Aku Begini Engkau Begitu karya Rinto Harahap yang dipopulerkan Broery. Juga, fenomena Karmila hingga Ini Rindu dari Farid Hardja serta Benyamin S. dengan Kompor Meleduk dan Hujan Gerimis.

Tepatnya, Chrisye adalah penyanyi yang selalu tepat dalam menafsirkan lagu dari siapa saja. Sudah banyak komposer yang menyodorkan lagu untuk Chrisye, mulai dari Guruh Soekarno Putra, Eros Djarot, Oddie Agam, Rinto Harahap, Dian Pramana Poetra, Adjie Soetama, Younky Soewarno, Andi Mapajalos, Bebi Romeo, Ahmad Dhani, Pongky Jikustik, dan sederet panjang lainnya. Ketika lagu-lagu ciptaan me-reka dinyanyikan Chrisye, atmosfernya lalu berubah menjadi atmosfer Chrisye.

Itu pun terjadi ketika Chrisye dalam album Dekade (2002) membawakan lagu dangdut karya A. Rafiq berjudul Peng-alaman Pertama hingga Kisah Kasih di Sekolah dari Obbie Messakh, semuanya meleleh menjadi karakter Chrisye.

Ini mengingatkan saya pada Phil Collins, drumer rock progresif Genesis yang kemudian lebih dikenal sebagai ikon musik pop. Phil Collins penyanyi yang juga menjadi mata air inspirasi Chrisye. Phil Collins adalah Midas yang mampu mengubah lagu siapa saja menjadi lagu Phil Collins. Simak saja, misalnya, You Can’t Hurry Love yang awalnya dipopulerkan The Supremes hingga Groovy Kind of Love-nya Wayne Fontana & The Mindbender. Semuanya seolah lagu karya Phil Collins.

Singkatnya, kemampuan menginterpretasikan karya adalah salah satu titik kekuatan Chrisye, di samping timbre vokal yang khas. Chrisye memang tepat disebut sebagai penyanyi bernapas panjang. Konon, semasa bergabung di Gipsy antara 1969 dan 1973,Chrisye paling sering membawakan repertoar grup brass rock Chicago dan pemusik blues kulit putih John Mayall. Karakter vokalis Peter Cetera dan John Mayall yang mengandalkan napas panjang dalam mendaki lengkingan vokal yang tinggi tampaknya membentuk karakter vokal khas Chrisye yang dikenal orang sekarang ini.

Sayangnya, sang pemilik napas panjang ini usianya tak panjang. Ketiga rekannya pun berusia tak panjang: Broery 52 tahun, Benyamin 56 tahun, dan Farid 48 tahun. Karena penyakit yang bersarang di tubuhnya, Chrisye pun pamit dari hadapan kita enam bulan sebelum dia genap berusia 58 tahun pada 16 September 2007 nanti.

Diskografi

1.Guruh Gipsy (1977)

2.LCLR Prambors 1 (1977)

3.Badai Pasti Berlalu (1977)

4.Jurang Pemisah (1977)

5.Sabda Alam (1978)

6.Percik Pesona (1979)

7.Puspa Indah Taman Hati (1980)

8.Pantulan Cita (1981)

9.Resesi (1983)

10.Metropolitan (1983)

11.Nona (1984)

12.Sendiri (1985)

13.Aku Cinta Dia (1986)

14.Hip Hip Hura (1986)

15.Nona Lisa (1987)

16.Jumpa Pertama (1988)

17.Pergilah Kasih (1989)

18.Cintamu Telah Berlalu (1992)

19.Sendiri lagi (1993)

20.Akustichrsiye (1996)

21.Chrisye (1997)

22.Badai Pasti Berlalu (1999)

23.Dekade (2002)

24

Chrsiye

.Senyawa (2004)

Broery Pesolima

Broery Pesolima adalah penyanyi pop legendaris Indonesia.Juga dikenal dengan nama Broery Marantika,bahkan sempat berganti menjadi Broery Abdullah saat menikah dengan penyanyi Anita Sarawak.

Broery dilahirkan  di Ambon 25 Juni 1948 .Selain menyanyi,juga terampil bermain keyboard.Pernah tergabung dalam berbagai band diantaranya The Pro’s.Broery pun sempat menjadi aktor film layar lebar.

Nama aslinya adalah Simon Dominggus Pesolima.Adapun  nama Broery Marantika yang diambil dari nama keluarga ibunya. Broery  dibesarkan oleh keluarga pamannya dari pihak ibunya, Pdt. Simon Marantika. Ayahnya bernama Gijsberth Pesulima sedangkan ibunya bernama Wilmintje Marantika. Broery memiliki tiga saudara yaitu Henky, Freejohn dan Helmi.

Broery meninggal dunia di Jakarta pada 7 April 2000

Broery